Bupati Aceh Tengah Menjadi Narsum Dalam Diskusi Publik Tentang Rencana Pembangunan Kawasan Stategis di DATIGA-ALAS

865

Takengon – Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar menjadi salah satu nara sumber utama dalam diskusi publik secara online mengenai rencana pembangunan kawasan strategis di Dataran Tinggi Gayo Alas (DTGA) yang berbasis perspektif lingkungan, Sabtu (04/07).

Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Forum Diaspora dan Mahasiswa Aceh-Dunia ini, menampilkan Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bener Meriah untuk mengulas tentang konsep perencanaan baik dari aspek tehnis, partisipatif dan politis dalam pengembangan kawasan DTGA yang berbasis lingkungan. Sayang pada kesempatan itu, Bupati Aceh Tenggara batal hadir sebagaimana yang telah dijadwalkan sebelumnya.

Turut serta pada acara itu, 5 (lima) panelis yang berasal dari pemerhati lingkungan dan akademisi dengan fasilitator atau pemantik diskusi, Saudara Fahmi Abduh, Ph.D. dari Urban Dynamic Modeling Specialist.

Bupati Shabela yang didaulat sebagai pembicara pertama, mempresentasikan bagaimana konsep percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi berbasis kawasan dan lingkungan diwilayah tengah.

Dia menyampaikan bagaimana arah pembangunan yang dilakukan diwilayah ini mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya namun tetap mengacu pada konsep pemanfaatan kawasan yang berbasiskan pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan kawasan.

Topik yang sengaja dipilih Bupati Aceh Tengah itu, tidak terlepas dari gambaran mengenai pembagian kawasan dalam wilayah kabupaten ini.

Dari luas kabupaten sebesar 452.753,40 ha, hanya seluas 105.570,35 ha atau 23,32% saja lahan dalam kawasan APL yang dapat dimanfaatkan sebagai permukiman maupun perkebunan bagi penduduk di daerah ini.

Selebihnya, luas wilayah ini terdiri dari kawasan Taman Buru, Hutan Lindung, Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi Terbatas, menjadikan pemanfaatan maupun pengembangan lahan di daerah ini dipengaruhi oleh daya dukung kawasan dan lingkungan yang ada.

Belum lagi dari kontur dan kemiringan tanah, yang sebagian besarnya memiliki topografi yang bergelombang, berbukit dan bergunung. Sehingga arah kebijakan pembangunan didaerah ini, sering mengalami paradoks antara kepentingan peningkatan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat melalui perluasan sumber ekonomi, namun disisi lain berbenturan dengan penetapan kawasan dan pelestarian lingkungan hidup.

Untuk itu, orang nomor satu di kabupaten tertua di Dataran Tinggi Gayo ini, berpendapat pemanfaatan lingkungan berikut ekosistemnya serta perlindungan kawasan hutan dan lahan dapat menjadi objek tersendiri dalam mewujudkan sumber ekonomi baru yang berwawasan lingkungan.

“Hutan, isu karbon, air dan sungai berikut daerah alirannya serta taman buru Linge maupun kawasan perlindungan gajah atau Tahura, adalah program kedepan yang akan lebih serius digarap oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sebagai solusi peningkatan sumber ekonomi masyarakat namun tetap bersahabat dengan pelestarian alam dan lingkungan hidup”, demikian Shabela. (IMH/ Humas).