Bupati Shabela Ajak Masyarakat Kembali Perkuat Adat Istiadat dan Kearifan Lokal

31

Takengon – Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar mengajak masyarakatnya untuk kembali kepada jati diri yang berakar pada adat dan budaya Gayo yang kental dengan tata nilai dan norma yang terbingkai dengan nuansa agama yang Islami.

Hal tersebut disampaikan orang nomor satu di kabupaten penghasil kopi ternama di dunia itu disela-sela acara pelantikan Reje Kampung Asir-Asir Kecamatan Lut Tawar pada Jum’at (05/08) pagi di Meunasah Al Muslim kampung setempat.

Dikatakannya, seiring dengan diberlakukannya undang-undang Pemerintahan Aceh sekarang ini, maka semakin terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk kembali kepada jati diri bahwa sistem pemerintahan di provinsi Aceh khususnya di tanah Gayo ini memiliki nilai luhur dan filosofi sakral yang mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat.

“Sebut saja seperti bagaimana leluhur kita telah mengatur tata cara menjalankan roda pemerintahan dalam wadah Sarak Opat dengan wujud Reje simusuket sipet. Imem simuperlu sunet. Petue simusidik sasat, dan rayat genap mupakat,” kata Shabela.

Menurut Bupati Shabela, pengakuan itu perlu dimaknai secara benar oleh masyarakat terutama di kampung-kampung selaku garda terdepan pemerintahan, agar adat istiadat dan kearifan lokal menjadi titik awal kegiatan pemerintahan, pembangunan serta sosial kemasyarakatan di kabupaten ini.

“Maknanya adalah bahwa dalam setiap tingkah laku, sikap, perbuatan dan tindakan yang berhubungan dengan orang lain terutama masyarakat di daerah ini selalu ada aturan dan disiplin dengan memakai tolok ukur adat istiadat (Gayo), yang selalu berdampingan dengan tolok ukur agama (Islam),” jelas Shabela.

Oleh karena itu, dia berharap kiranya kekayaan budaya dan kearifan lokal yang pernah hidup ditengah-tengah masyarakat, perlu dilestarikan dan dikembangkan agar menjadi pendorong bagi upaya mewujudkan kebersamaan dan kekeluargaan serta menjadi jati diri kehidupan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah.

“Betapapun berat dan sulitnya halangan kedepan, harus dihadapi dengan arif dan bijaksana. Seperti bahasa adat kita ratib musara anguk, nyawa musara peluk. Bulet lagu umut, tirus bilang gelas.” Pungkas Shabela. (IMH/ProkopimAT)