Dialog Ideopolitor Zona Tengah Teguhkan Ideologi, Perkuat Kaderisasi dan Bangun Kepemimpinan Penggerak Muhammadiyah
Takengon – Majelis pembinaan kader dan sumber daya insani Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh menggelar pendidikan ideologi organisasi, kaderisasi, serta sinergi dalam pembangunan masyarakat berlangsung di Gedung Oproom Setdakab Aceh Tengah, Jumat (10/07/2026).
Dengan mengusung tema “Meneguhkan Ideologi, Menguatkan Kaderisasi, dan Membangun Kepemimpinan yang Menggerakkan.” Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat pemahaman ideologi organisasi, kaderisasi, serta sinergi dalam pembangunan masyarakat dalam dialog Ideopolitor Organisasi Zona Tengah.
Acara dibuka dengan amanat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, A. Malik Musa, SH., M.Hum. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya memperkuat peran imam sebagai pembina kehidupan keagamaan di tengah masyarakat. Menurutnya, imam perlu mendapatkan dukungan yang memadai agar dapat fokus menjalankan tugas pembinaan umat.
Ia juga menjelaskan bahwa Muhammadiyah terus berkontribusi dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial melalui ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.
Menurutnya, Muhammadiyah senantiasa bersinergi dengan pemerintah dalam membangun bangsa dengan mengedepankan dakwah, edukasi, dan penyampaian nasihat secara santun sebagai bagian dari tanggung jawab moral organisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Malik Musa menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada ideologi organisasi yang berlandaskan ajaran Islam, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sementara itu, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga dalam arahannya mengajak seluruh peserta agar setiap program keagamaan menghasilkan perubahan nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurutnya, keberhasilan sebuah program harus diukur dari dampaknya terhadap peningkatan kualitas ibadah dan akhlak masyarakat. Ia mencontohkan berbagai program yang telah dijalankan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, seperti pembiasaan membaca Al-Qur’an di lingkungan aparatur sipil negara, rumah sakit, puskesmas, serta pembinaan bagi calon pengantin.
Bupati juga menekankan pentingnya penguatan peran imam dan muazin di setiap kampung sebagai ujung tombak pembinaan keagamaan. Ia berharap seluruh desa memiliki kader imam yang berkualitas sehingga mampu memakmurkan masjid dan membimbing masyarakat.
Selain itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, untuk terus berkolaborasi dalam membangun generasi yang tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (RH/ProkopimAT)
