Dampingi Wakarendal Satgas PRR Pusat, Plt. Sekda Aceh Tengah Tinjau Progres Pemulihan Pascabencana di Lapangan
Takengon – Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah, Drs. Alam Syuhada, MM, mendampingi Wakil Kepala Perencanaan dan Pengendalian Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pusat, Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A.Cd, dalam kunjungan lapangan untuk memantau progres pengerjaan proyek pascabencana di Kabupaten Aceh Tengah, Selasa (13/10/26).
Kegiatan diawali dengan rapat bersama di Ruang Rapat Setdakab Aceh Tengah, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke beberapa titik pengerjaan proyek pascabencana yang berasal dari Kementerian/Lembaga maupun daerah.
Memulai rapat, Kabag Administrasi Pembangunan Setdakab Aceh Tengah, Luken Bugeking, menjelaskan beberapa sumber TKD dan bantuan keuangan yang berasal dari beberapa sumber seperti dari Pemprov Sumatera Utara dan Pemkab Solok untuk mendukung pemulihan Aceh Tengah.
Selanjutnya, Kepala Bappeda Aceh Tengah, Jumadil Enka, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang merevisi Rencana Induk (Renduk) karena ada beberapa data yang perlu disempurnakan dan hal ersebut sudah diizinkan pihak Bappenas.
Jumadil Enka melanjutkan bahwa Pemkab saat ini kesulitan melihat pekerjaan oleh kementerian/lembaga di wilayah Aceh Tengah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ada baiknya kegiatan tersebut dikoordinasikan agar tidak ada bantuan yang tumpang tindih serta tepat sasaran.
“Saat ini kami juga kesulitan dalam melihat progres yang dijalankan kementerian yang sudah berjalan di lapangan, sehingga program tersebut diharapkan tepat sasaran seperti yang menyangkut perorangan,” ujar Jumadil.
Ia juga menekankan pentingnya akses jalan di Kabupaten Aceh Tengah dalam mengatasi inflasi yang saat ini masih menjadi permasalahan pasca bencana.
Waka Perencanaan dan Pengendalian Satgas PRR Pusat, Dr. Drs. Imran, M.Si., M.A.Cd, dalam kesempatan tersebut datang bersama tim salah satunya berasal dari Itjen Kemendagri agar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) ini selaras dengan penggunaan anggaran yang baik dan benar.
Imran juga menegaskan pentingnya koordinasi kegiatan dalam wilayah Aceh Tengah baik skala Kementerian/Lembaga, Provinsi, dan Kabupaten.
“Hal tersebut tidak serta merta menjadi tanggung jawab Pemda Kabupaten melainkan seluruh jajaran yang terlibat,” tegas Imran.
Usai rapat, kegiatan lapangan dimulai dari Jalan Rutih menuju Genting Gerbang dan sekitarnya. Jalan ini merupakan akses alternatif untuk peralihan Jalan Genting Gerbang dan sekitarnya yang mengalami hambatan akibat bencana, yaitu di Jembatan Titi Merah yang tidak dapat dilalui oleh mobil bermuatan tinggi.
Panjang jalan yang diperbaiki sekitar 600 meter dengan lebar 4 meter. Adapun realisasi fisik untuk saat ini diperkirakan 40% dengan total dana yang digunakan sekitar Rp 1,2 Miliar.
Selanjutnya kegiatan lapangan menuju TPA Uwer Tetemi yang berada di Desa Mulie Jadi. TPA tersebut masih terdapat pekerjaan dari Kementerian PU berupa Proyek Sanitasi Landfill.
HSE Officer PT PP Proyek Sanitasi Landfill, Adrai, mengatakan proyek ini bukan kegiatan dalam penanganan bencana melainkan proyek kementerian yang terimbas bencana.
“Dalam pekerjaannya, TPA Aceh Tengah ini dikerjakan landfill menampung sampah dengan tampungan 50 x 100 meter,” jelas Adrai.
Ia menambahkan proyek ini dimulai sejak 5 Januari serta penandatanganan kontrak 5 Juli dan diperkirakan selesai pada 17 Desember 2026. Saat ini pekerjaannya sudah mencapai 71,5%. Proyek ini mengalami kendala akibat cuaca yang tidak bersahabat sehingga para pekerja mensiasati cara pekerjaan yang efektif.
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Jembatan Pelang yang dilaksanakan pekerjaannya oleh PT. Adhi Karya melalui Balai BPJN Aceh Kementerian PU.
Jembatan tersebut merupakan jembatan penghubung Desa Genting Gerbang – Desa Jerata, Kecamatan Silih Nara dengan posisi jalan merupakan tanggung jawab nasional. Pengerjaannya dimulai Juli dengan target beroperasi pada November tahun ini.
Di sekitar lokasi juga dilaksanakan normalisasi sungai dengan pekerjaan Buis Beton Tebing Pengaman Sungai sepanjang kurang lebih 300 meter, 6 lapisan, dengan progres fisik 70%.
Adapun informasi lain terkait Jembatan Pelang, konstruksi rangka baja dengan panjang 55 meter, lebar 9 meter (jalan 7 meter), tonase 130 ton, progres fisik ±80%, total anggaran Rp 82 miliar bersumber dari APBN, dimana 4 dari 11 segmen jembatan sudah selesai dan tersisa 7 segmen.
Plt. Sekda Alam Syuhada berharap seluruh progres dapat berjalan sesuai target dan sinergitas antara pusat, provinsi, dan kabupaten terus diperkuat untuk percepatan pemulihan pascabencana di Aceh Tengah. (M/ProkopimAT)
