“Nadira, Ingin Kembali Sekolah” Ujarnya Pada Tim Psikolog Datu Beru

217

Takengon – Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar, pada kesempatan mengunjungi korban penculikan terhadap anak atas nama Nadira (12) beberapa waktu yang lalu di Unit Gawat Darurat, RSUD Daru Beru Takengon, menekankan agar pihak Rumah Sakit memberikan perawatan secara intensif, baik medis maupun psikis bagi korban.

Menindaklanjuti hal tersebut, Plt. Direktur UPTD RSUD Datu Beru, dr.H. Gusnarwin, Sp.B, beserta jajaran dan Tim Psikolog RSUD Datu Beru memberikan pendampingan pada Korban.

Pasca menjalani perawatan medis, Nadira (12), korban Penculikan akhirnya diperbolehkan pulang. Menurut Gusnarwin selain kondisi fisik yang sudah membaik, kondisi psikologis korban juga mulai berangsur pulih.

“Alhamdulillah, dari hasil observasi tim dokter dan psikolog rumah sakit, diputuskan untuk bisa pulang, Kondisi fisik dan psikis jauh lebih baik, Pemulihan dapat dikatakan cukup cepat berkat dukungan semua pihak, terutama keluarga dan orang di sekitarnya,” Kata Spesialis Bedah tersebut.

Meski demikian, Tim Kesehatan dan Psikolog RSUD Datu Beru tetap melakukan pemeriksaan kesehatan serta melakukan pendampingan trauma healing atau pemulihan kondisi psikologis korban penculikan tersebut.

Tim tersebut langsung berkunjung ke rumah korban, untuk melakukan pendampingan psikologis lanjutan, pasca dipulangkan nya siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Aceh Tengah itu, Pada Senin (13/09/2021).

Hadirnya Tim ke lokasi untuk melakukan pendampingan terhadap korban, yang merupakan bentuk kehadiran negara dalam membela dan memenuhi hak-hak anak serta memastikan semua pihak bekerja bersama-sama memberikan perlindungan terhadap anak, baik secara fisik, sosial, hukum dan psikologis, juga menjunjung tinggi kepentingan terbaik bagi anak.

Berdasarkan hasil pendampingan tim psikolog RSUD Datu Beru, Harmala dan Sara mengatakan Kondisi psikologis Korban telah mulai membaik.

“Nadira, sudah mulai menjalin interaksi sosial dengan keluarga, kedua adiknya dan juga seorang sepupu nya, selain itu Nadira juga mulai mampu mengelola emosi positif dengan orang asing, dan yang paling hebatnya telah kembali muncul harapan ingin kembali belajar (need achievement) di sekolah bersama teman-teman nya,” Terang Sara, Salah seorang anggota Tim Pendamping Psikolog RSUD Datu Beru.

“Alhamdulillah, perkembangan psikologisnya sangat baik, dia merupakan anak yang cerdas dalam mengelola emosi nya, dan Insyaallah beberapa waktu ke depan sudah mulai kembali masuk sekolah,” Lanjutnya.

Selain dukungan, perlindungan penuh, dan pendampingan proses hukum korban pun akan difasilitasi dengan pengobatan trauma healing oleh psikolog professional berkelanjutan, sampai korban sendiri merasa cukup, agar korban mampu melewati masa-masa sulit akibat kejadian yang tidak mengenakan tersebut dan mampu kembali fokus dan semangat untuk belajar. 

Selain terapi pada korban, Tim Psikolog RSUD Datu Beru juga memberikan Psikoedukasi pada keluarga, menyampaikan agar seluruh pihak terdekat korban memberikan dukungan terutama dukungan moril karena dukungan dari orang-orang terdekat akan mampu mengembalikan semangatnya menjalani hari-hari nya ke depan nanti.

Sebelumnya, dalam kasus dugaan penculikan anak dibawah umur tersebut, penyidik Polres Aceh Tengah telah menetapkan dua tersangka, KS (25) dan istrinya W (18), penetapan ini dilakukan setelah penyidik memeriksa sejumlah saksi, sejumlah alat bukti dan termasuk hasil visum terhadap korban yang diduga menjadi korban penculikan dengan pelecehan, akibatnya korban pun sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Datu Beru Takengon. (HMA/ProkopimAT)