Tinjau Tanaman dan Lahan Perkebunan Terdampak Banjir, Pj. Bupati T. Mirzuan Tanggapi Keluhan Masyarakat Jagong Jeget

72

Takengon – Banjir membawa material pasir dan batu yang melanda tiga kampung di Kecamatan Jagong Jeget Kabupaten Aceh Tengah, merusak sebahagian tanaman dan lahan perkebunan masyarakat, guna memastikan kerusakan kondisi lahan perkebunan dan pertanian masyarakat terdampak banjir, Pj. Bupati Aceh Tengah Ir. T. Mirzuan, MT, turun langsung ke lokasi banjir untuk mendengarkan langsung keluhan masyarakat.

Didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Aceh Tengah, H. Harun Manzola, SE, MM, Kepala Pelaksana BPBD, Ir. Andalika, ST, Kepala Dinas Sosial , Drs. Ishak, Kepala Dinas PUPR, Ir. Armaida, MM, Kepala Dinas Pertanian, Ir. Nasrun Liwanza, MM, dan Camat Jagong Jeget, Drs. Abada, Pj. Bupati melihat langsung kerusakan tanaman dan lahan perkebunan masyarakat berada di tiga kampung Kecamatan Jagong Jeget, Jumat (20/10/2023).

Dalam kesempatan itu, T. Mirzuan mendengarkan keluhan masyarakat tiga kampung yakni Kampung Gegarang, Kampung Telege Sari, Kampng Paya Dedep, terkait kerusakan tanaman dan lahan dampak banjir yang terjadi.

Menanggapi keluhan masyarakat tersebut, T. Mirzuan menjelaskan bahwa banjir dengan membawa material pasir dan batu akibat terjadinya perubahan fungsi hutan karena perbuatan manusia sendiri.

“Terjadinya perubahan fungsi hutan akibat dari maraknya praktek illegal logging (pembalakan liar) dan tingginya pembukaan lahan perkebunan yang tak terkendali lagi”, kata T. Mirzuan.

Lanjutnya, normalisasi aliran sungai yang ada harus dilakukan dari hulu ke hilir, air ketika musim penghujan, sungai tidak bisa menampung air dan material baik pasir batu dan kayu yang meluap ke lahan perkebunan dan pertanian masyarakat.

“Jadi, sedimentasi sungai ini persoalan intinya, agar dapat meminimalisir dampak banjir. Normalisasi dan pembersihan material sungai mendesak dilakukan”, ujarnya.

Dampak banjir yang melanda, tercatat 100 Hektar perkebunan kopi dan 5 hektar lahan persawahan masyarakat yang rusak. Bantuan dari pemerintah melalui program peremajaan dan bantuan bibit hingga pupuk akan disalurkan, dan tindaklanjut normalisasi sungai sebagai program rehab rekon perlu direncanakan dengan mempertimbangkan anggaran.

“Kita berharap masyarakat lebih peduli terhadap kelestarian hutan, keseimbangan kehidupan kita tergantung pada alam kita”, harap T. Mirzuan. (RH/ProkopimAT)

X