Nyawa Ekonomi Bertumpu di Sling Sungai, Bupati Aceh Tengah Desak Solusi Cepat untuk Lima Desa Terisolir
Takengon – Mobilisasi ekonomi masyarakat di sejumlah desa terisolir di Kabupaten Aceh Tengah saat ini hanya bergantung pada sling manual swadaya masyarakat menggunakan kabel listrik PLN dan sangat tidak aman serta berbahaya untuk menyeberangi sungai berarus deras dan berbatu. Kondisi darurat ini menjadi satu-satunya akses warga untuk mengangkut dan menjual hasil bumi pertanian seperti durian, cabai, kopi, hingga beras, di tengah musim panen yang sedang berlangsung.
Kondisi tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si, saat meninjau pengungsian warga Kampung Bintang Pepara yang mengungsi di SMP Negeri 32 Ketol, Sabtu (03/01/2026). Dalam kunjungan tersebut, Bupati bahkan menyeberangi sungai menggunakan sling demi merasakan langsung kesulitan masyarakat.
“Ini luar biasa berat. Ada enam titik sling yang digunakan masyarakat saat ini, tapi semuanya tidak layak dan masih manual sekali. Ini butuh perlakuan khusus dan harus segera ditangani”, kata Bupati Haili Yoga.
Ia menjelaskan, sling tersebut menjadi urat nadi kehidupan bagi masyatakat dari sejumlah desa, seperti Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara, setelah badan jalan dan jembatan utama mengalami longsor akibat bencana.
“Semua komoditi unggulan durian, cabai, kopi diangkut dengan cara seperti ini. Bahkan beras dan bantuan logistik pun harus lewat sling. Kita memang dibantu heli, tapi kalau akses darat bisa dipulihkan atau diperkuat, tentu jauh lebih baik”, ujarnya.
Sementara itu, Gunawan, warga Kampung Kekuyang yang sehari-hari menjadi penarik tali sling, mengungkapkan bahwa sling yang digunakan saat ini berukuran kecil dan rawan putus berbahaya untuk pengguna.
“Yang ada sekarang kecil, tidak cocok, cepat rusak. Kadang seminggu sudah pecah. Tadi juga sempat ada yang jatuh”, ungkapnya kepada Bupati. Meski demikian, ia menyebut kejadian tersebut lebih karena keterbatasan alat yang tersedia, bukan kelalaian masyarakat semata.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Aceh Tengah menegaskan bahwa persoalan sling ini telah disampaikan langsung dalam komunikasi dengan pemerintah pusat. “Kami sampaikan langsung ke Bapak Presiden dan Bapak Menteri. Di sana ada lima desa yang kondisinya cukup berat jalan longsor, jembatan runtuh, dan sangat rentan”, kata Bupati.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mendorong agar segera diberikan sling berkapasitas besar dan standar keselamatan tinggi, sebagai solusi sementara yang lebih aman sembari menunggu pemulihan infrastruktur permanen.
“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi keselamatan dan kemanusiaan. Selama akses darat belum pulih, masyarakat tetap harus hidup, bekerja, dan menjual hasil panennya. Negara harus hadir dengan solusi yang layak”, beber Haili Yoga.
Dengan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pusat, diharapkan dalam waktu dekat masyarakat di desa-desa terisolir dapat memperoleh akses penyeberangan yang lebih aman, sehingga roda ekonomi tetap berputar dan risiko kecelakaan dapat diminimalkan. (RH/ProkopimAT)
