Pastikan Layanan Kesehatan Khususnya Stunting Baik, Pj. Bupati Kunjungi RSUD Datu Beru Takengon

325

Takengon – Stunting atau kerdil pada anak disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi secara kronis. Hal ini karena akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata, terutama pada ibu hamil. Padahal faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin sampai anak usia 2 tahun.

Pastikan kondisi tersebut tertangani dengan baik, Pj. Bupati Aceh Tengah Teuku Mirzuan MT. didampingi Pj Ketua TP PKK Aceh Tengah, Novita, Kunjungi Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon, pada Kamis Malam (19/1/2023).

Secara bersama, untuk masyarakat luas diperlukan formula program percepatan dalam penurunan stunting, dengan intervensi berbasis keluarga berisiko stunting. Fokusnya adalah penyiapan kehidupan berkeluarga, pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan, juga peningkatan akses air minum dan sanitasi, Ungkap Pejabat Bupati dalam kesempatan itu.

“Pemerintah akan memperkuat percepatan penurunan stunting melalui langkah-langkah intervensi kesehatan masyarakat melalui Puskesmas dan Posyandu, pada ibu sejak sebelum hamil sampai sesudah melahirkan”. Tegasnya.

Untuk sebelum kelahiran akan dilakukan program pendistribusian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, program tambahan asupan gizi untuk bu hamil kurang gizi kronik, melengkapi puskesmas dengan alat USG untuk mempertajam identifikasi ibu hamil.

Kemudian untuk pasca kelahiran juga dilakukan program untuk mendukung pemenuhan konsumsi protein hewani balita, merevitalisasi proses rujukan balita, dan stunting ke puskesmas dari rumah sakit, serta merevitalisasi, melengkapi, mendegitalisasi alat ukur di seluruh Posyandu

“Aceh khususnya Aceh Tengah bebas stunting, merupakan suatu cita-cita bersama yang harus didukung oleh semua pihak. Pasalnya, stunting yang merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang dengan ditandai panjang atau tinggi badan berada di bawah standar, dapat berdampak pada kesehatan fisik serta perkembangan anak”, Imbuhnya.

“Jika tidak segera diatasi, stunting berpotensi menyebabkan anak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah dan mempengaruhi produktivitas serta kualitas sumber daya manusia di masa mendatang”, Lanjutnya.

Meskipun kejadian stunting pada umumnya ditemukan terjadi di masyarakat melalui program kesehatan Posyandu maupun Puskesmas, namun Rumah Sakit tetap memiliki peranan dalam menyukseskan program penurunan stunting.

Senada, Direktur RSUD Datu Beru, dr. H.Gusnarwin,Sp.B. menambahkan, Peran rumah sakit dalam penurunan stunting ini salah satunya tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit. Dalam peraturan tersebut, salah satu standar akreditasi yang dinilai adalah Program Nasional penurunan prevalensi stunting, Jelasnya.

Dengan dikeluarkannya standar tersebut, maka dietisien dan nutrisionis maupun penanggung jawab kesehatan anak di rumah sakit harus menyusun dan melaksanakan program gizi sesuai dengan kondisi yang ada. Terlebih lagi, sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, kasus stunting dan wasting yang dirujuk ke rumah sakit pada umumnya bersifat kompleks.

Diharapkan rumah sakit dapat melakukan edukasi, pendampingan intervensi dan pengelolaan gizi serta penguatan jejaring rujukan kepada rumah sakit dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di wilayahnya serta rujukan masalah gizi, Harap Pj. Bupati T. Mirzuan dalam kunjungan yang memastikan layanan RSUD Datu beru berjalan baik dan tampak turut diikuti unsur pimpinan DPRK Aceh Tengah tersebut. (HMA/ProkopimAT)

X